Rapat Kerja Pengurus Bravo 2013-2015

Para pengurus Bravo sedang berkumpul dengan duduk melingkar di Anjungan Nusa tenggara barat (NTB) TMII, 29-30 desember 2012.

Peringatan hari Disabilitas internasional se-Jabodetabek

Volunteer Bravo sedang berdiskusi untuk membantu kawan-kawan disabilitas

Peringatan hari Disabilitas Internasional se-Jakarta

Kawan-kawan disabilitas sedang jalan sehat dari Monas - Bundaran Hotel Indonesia (HI)

Selalu semangat untuk kawan-kawan disabilitas

Rani Aziz, Koordinator umum sedang berdiskusi dengan Bimo Wahyudi, Koordinator harian bravo

Volunteer Bravo Bersama Barrier free turism

Sedang membantu kawan disabilitas daksa menaiki tangga di stasiun cikini yang tidak akses

Jumat, 18 Maret 2016

DPR mengesahkan RUU Penyandang Disabilitas


Berita terbaru dan juga membahagiakan bagi pemerhati serta penyandang disabilitas. Kemarin (17/03/2016) Rancangan Undang Undang Disabilitas telah disahkan oleh DPR. Kini, Pemerintah tidak lagi menggunakan UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat sebagai acuan hukum dalam membuat kebijakan untuk penyandang disabilitas. UU Penyandang Cacat dianggap sudah tidak sesuai dengan cara pandang yang saat ini berkembang. 

Permasalahan mendasar dari penyandang disabilitas adalah kurangnya pemahaman masyarakat maupun aparatur pemerintah yang terkait tentang arti disabilitas dan keberadaan penyandang disabilitas sebagai bagian dari warga negara. 

Adanya anggapan bahwa disabilitas merupakan aib, kutukan dan memalukan, membuat keluarga menjadi tidak terbuka mengenai anggota keluarganya yang memiliki disabilitas. Penyandang disabilitas tidak mendapat hak dan kesempatan yang sama seperti warga masyarakat lainnya. Penyandang disabilitas disamakan dengan orang sakit, tidak berdaya sehingga tidak perlu diberikan pendidikan dan pemenuhan. Selain itu, fasilitas berupa aksesibilitas fisik dan non fisik untuk penyandang disabilitas relatif sangat terbatas sehingga menyulitkan mereka untuk bisa hidup bernegara dan berpartisipasi di masyarakat. 

UU Penyandang Cacat juga dibentuk pada saar rezim orde baru, yang memiliki kebijakan dalam perlindungan HAM bagi warga negara yang berbeda dengan saat ini. Sebagai contoh, UU Penyandang Cacat masih menganggap sang manusia sebagai obyek dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, sehingga kebijakan yang disusun masih didominasi rasa kasihan (charity base). 

Sedangkan cara pandang yang sekarang berkembang yaitu melihat interaksi antar manusia sebagai obyek utama, sehingga kebijakan yang disusun adalah untuk menciptakan kondisi yang non-diskriminasi karena semua manusia memiliki hak yang sama (right base). 

Sabtu, 12 Maret 2016

Doaku dalam Aksara



Aku hadir karena mereka.
Aku percaya mereka menyayangiku sekuat hati, sampai nanti, waktunya menghadap Sang Illahi.
Bila hujan saja mampu turun disertai gemuruh geluduk, tidak ada alasan aku tidak mampu berdiri.
Aku percaya, Tuhan itu Maha Esa, Maha Hidup, Maha Adil, Maha penyayang, dan Segala-galanya milikNya.
Sekali lagi, aku hidup karena sebuah rasa. Rasa sayang pada keluarga kecilku dan juga rasa sayang mereka terhadapku.
Usiaku kala itu 6 bulan menurut hitungan kalender masehi. Tuhan memberiku sebuah cahaya, cahaya yang hingga kini selalu menerangi, ya, mereka adalah keluarga baruku.
Detak jam terus berbunyi, mengiringi jarumnya yang terus berputar hingga saat itu datang. Lagi-lagi sebuah rasa dari keluarga baruku yg tak kalah besar dari mereka nun jauh disana, aku rasakan. Nyaman. 
Tuhan menganugerahkan kenyataan yang harus aku terima, bunyi takkan hinggap di pendengaranku,
Meski begitu, Mereka tak menampakkan sedikitpun kebingungan dan kesedihannya dalam wajahku, tapi aku tau pasti mereka sedih dan bingung.
Karena sebuah rasa, senantiasa mengiringi tumbuh dan kembangku. Mereka membiarkanku menikmati hidup yg teramat indah untuk dilewatkan. Sembari menerka-nerka, jalan panjang seperti apa yang harus kulalui nanti.
Tuhan selalu punya cara untuk dikagumi. Aku dan keluargaku adalah hamba pilihanNya yang dengan nyata dan kontan ditunjuk untuk selalu mengingatNya.
Waktu berjalan, hingga aku mendapatkan kelayakan hidup di dunianNya. Hidup laksana burung, aku bebas melakukan apa yang kusuka ditengah keterbatasanku. Bernafas, jantung berdegup, berjalan, bersekolah, berbicara, berteriak, marah, berkomunikasi, aaaah semuanya aku suka, asal mereka suka. 
Sampai usiaku 7 tahun, sebuah rasa itu, dilipatgandakan untukku dan keluargaku. Aku memiliki seorang adik kecil, lucu dan cantik. Lebih dari cukup untuk menjadi temanku menggantikan kakak yang sudah mulai disibukkan dengan studinya. Tak apa. Kelak aku juga akan seperti kakak. Ya kan, kak? Kita akan demikian kalau sudah waktunya.
Hingga saat ini usiaku hampir 11 tahun (tepatnya 14 April nanti 11 tahun), aku tak berharap lebih di hari istimewaku.
Aku hanya butuh dan akan selalu aku dapatkan sebuah rasa itu untukAyah, Ibu, Kakak, dan Adik.
Hidup adalah sebuah rasa. Sebagaimana memaknai sesuatu menjadi bernilai kebaikan

Allah.. 
Peliharalah sayangku pada mereka, keluarga kecilku.
Peliharalah sayangnya kepadaku.
Lipat gandakan sayangMu pada kami.
Lipat gandakan sayang kami padaMu.
Allah... aku sayang Engkau, juga keluarga kecilku.
Allah... aku bersyukur atas sayangMu.
Aku akan menunggu dan terus menunggu.
Sampai aku MENDENGAR ...
mereka berkata "kami sayang kamu!".
suara deru ombak yang menyejukkan, katanya.
Sampai pagi menyapaku dengan Kokokan Ayam.
Sampai, gelas, piring, buku, semua benda yg tak bernafas berbunyi kala jatuh pun dibunyikan.
Sampai aku menangis dalam kesejukan lantunan Firman-firmanMu.
Sampai aku terpanggil untuk menjalankan ibadahku.
Wahai Rabb... aku akan menunggu.
Sampai saatnya aku dan keluarga kecilku menghadapmu.

-ERS-
10 Maret 2016

Sabtu, 05 Maret 2016

Ahok nonton bareng Tunanetra

@ahlaainussalamah bisik membisik dengan peserta nonton bareng.

Djakarta theatre kemarin (4/3/2016) dipenuhi sesak oleh penyandang disabilitas netra. Penyandang disabilitas netra yang berasal dari PERTUNI tersebut mengadakan kegiatan nonton bareng film Jingga.   

Film jingga mengangkat kisah kebanyakan tunanetra dalam mengarungi haru birunya kehidupan. Dimulai dari rasa depresi ketika menerima takdir kehilangan penglihatan untuk selamanya, film ini juga menceritakan kebahagiaan yang menyelimuti tunanetra ketika menemui cahaya kehidupan yang diberikan oleh orang-orang sekitarnya, kebahagiaan tersebut bahkan memacu kreativitas untuk berkembang ditengah keterbatasannya.

Selain dihadiri penyandang tunanetra, Pak Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta pun menyempatkan untuk hadir mengikuti film di sore hari itu. Beliau memaparkan bahwa aksesibilitas yang ada di Jakarta belum ramah terhadap para penyandang disabilitas. Beliau memaparkan hal tersebut setelah menonton film Jingga. Beliau menginginkan agar trotoar yang ada di Ibu Kota bisa dibuat lebih lebar dan rata. Tidak hanya itu, taman taman kota yang ada di Jakarta juga diwajibkan memiliki guiding block sebagai penuntun bagi tunanetra untuk menikmati taman kota, dan beliau juga berharap semua ruang publik yang ada di Jakarta ramah disabilitas.  

Semoga hal ini bukan hanya menjadi wacana semata, melainkan menjadi sorotan kebijakan pengembangan yang harus di realisasikan. Dan melalui film Jingga ini semoga dapat membuka pandangan dan bisa mengedukasi masyarakat luas akan adanya masyarakat penyandang disabilitas.