Rapat Kerja Pengurus Bravo 2013-2015

Para pengurus Bravo sedang berkumpul dengan duduk melingkar di Anjungan Nusa tenggara barat (NTB) TMII, 29-30 desember 2012.

Peringatan hari Disabilitas internasional se-Jabodetabek

Volunteer Bravo sedang berdiskusi untuk membantu kawan-kawan disabilitas

Peringatan hari Disabilitas Internasional se-Jakarta

Kawan-kawan disabilitas sedang jalan sehat dari Monas - Bundaran Hotel Indonesia (HI)

Selalu semangat untuk kawan-kawan disabilitas

Rani Aziz, Koordinator umum sedang berdiskusi dengan Bimo Wahyudi, Koordinator harian bravo

Volunteer Bravo Bersama Barrier free turism

Sedang membantu kawan disabilitas daksa menaiki tangga di stasiun cikini yang tidak akses

Tampilkan postingan dengan label column. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label column. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Desember 2014

Rapat Kerja (RAKER) Bravo For Disabilities periode 2014-2016 "Bergerak untuk Sama"

Depok, BRAVO FOR DISABILITIES (20/12). Bravo for Disabilitas kembali mengadakan acara rutin 2 tahunan, Rapat kerja bravo for disabilities. Acara tersebut bertujuan guna memilih koordinator umum yang baru dan staf pengurus yang baru, serta merumuskan program-program baru yang diharapkan dapat membantu disabilitas dalam menghapus diskriminasi di masyarakat.  Pukul 10.00 WIB bertempat di wisma D'Kampoeng Sawangan, Depok acara pembukaan rapat kerja bravo for disabilities dimulai. 

Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari Koordnator umum, Bendahara, Sekretaris, Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat, Koordinator Divisi Pendidikan, Koordinator Divisi Volunteer, serta seluruh anggota bravo yang terdiri dari anggota bravo lama dan anggota bravo baru. 

Susunan acara pada pagi itu yaitu, dimulai dengan acara pembukaan oleh Ketua Pelaksana yaitu Saudara Ilham Ahmad Nursoma dan dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan oleh Koordinator Umum Bravo for Disabilities periode 2012-2014 Rani Azis, S.Pd. Dalam acara pembukaan tersebut, ketua pelaksana mengutarakan agenda-agenda yang akan dilaksanakan, diantaranya:
  • Pemaparan Laporan Pertanggungjawaban oleh BPH
  • Pemaparan Laporan Pertanggungjawaban oleh Setiap Divisi
  • Pembentukan Konsensus
  • Pemilihan Koordinator Umum Periode 2014-2016
  • Pembentukan pengurus baru periode 2014-2016
  • Penyusunan program kerja untuk periode 2014-2016
Mengambil tema "Bergerak untuk Sama", maksud dan tujuan diambilnya tema tersebut yaitu diharapkan dari acara rapat kerja Bravo for Disabilitas ini terbentuk pengurus dan anggota baru yang tidak hanya berdialog dan berdiskusi dalam menyusun program kerja dalam kaitannya menghapus diskriminasi terhadap disabilitas, namun juga bergerak dan menciptakan kesamaan, karena hakekatnya manusia di mata tuhan adalah sama, namun manusialah yang menciptakan perbedaan antara disabilitas dengan yang non disabilitas.

Acara ini juga dihadiri oleh Ibu Aria Indrawati selaku pembicara dan motivator bagi pengurus dan anggota bravo. Beliau mengutaraan bahwa untuk kedepannya komunitas bravo for disabilitas ini harus memiliki sebuah area fokus kerja yang lebih jelas dalam kaitannya membantu disabilitas, kemudian ia juga memberikan tips bahwa untuk menjadi komunitas yang besar namun tak berorientasi kaearah uang, komunitas bravo for diasbilitas ini harus menciptakan sebuah brand dan semangat baru dalam memberikan penyadaran kepada masyarakat bagaimana kesenangan dalam membantu disabilitas.

Setelah acara pemberian materi, tibalah waktunya dalam agenda acara pemilihan koordinator umum bravo untuk periode 2014-2016. setelah dilakukan pemungutan suara, terpilihlah saudara Berry Supratman sebagai koordinator umum bravo for disabilities periode 2014-2016. Kemudian ia juga memilih BPH, ia menjadikan Tri Cahyadi Arief sebagai Koordinator harian, Mubarok sebagai Sekertaris, Herdi Egi Perdana sebagai Bendahara, Ilham Ahmad Nursoma sebagai Koordinator divisi Volunteer, Adi Syahputra Gultom sebagai Koordinator divisi Penelitian dan Pengembangan (LITBANG), Denny Abdurrachman sebagai Koordinator divisi Hubungan dan Masyarakat (HUMAS), dan Kharisma Fikri Mahardyan sebagai Koordinator divisi Pendidikan.

Dan terakhir acara sharing-sharing antara anggota bravo lama dengan pengurus dan anggota bravo menjadi penanda berakhirnya  acara rapat kerja Bravo for Disabilities untuk periode 2014-2016. tersebut.


Sabtu, 05 Januari 2013

Quo Vadis disabilitas


ANDAIKAN dunia ini adalah sebuah narasi nan panjang, yang mana pelbagai kisah, cerita, tercatat, maka kita tak lebih dari eksakta-eksakta kecil yang bergumal pada ruang dan waktu. Yang kemudian termaktub dalam kitab besar kehidupan. Didalamnya; diruntut dan dipilah-pilah untuk dikelompokan menjadi beberapa bagian, ‘Narasi besar’ dipisahkan dengan ‘narasi kecil, lalu dibagi lagi menjadi lakon gagah dan lakon ringkih, dst. Dari sini; kisah tentang Disabilitas bermula.

Meski agaknya disabilitas bukanlah sekedar narasi, apalagi sebatas wacana yang mengusik telinga kita. Disabilitas adalah sebuah realitas. Atau fenomena keseharian yang terkadang luput dari pengamatan inderawi kita. lantaran sebenarnya disabilitas kerap kali hadir, entah ia sebagai si cacat, si pincang, si buta, si budeg, si dungu, si gila, dan entah “si”-apa lagi. Cobalah tengok di pasar-pasar, di terminal-terminal, dalam kereta, perempatan jalan, dan di tempat-tempat ‘komunal’ lainnya. pasti akan dengan mudah bertemu ‘si cacat’ ini. Atau dalam ragam profesi, disabilitas kerap kita kenal sebagai si peminta, si pengemis atau si tukang pijat ‘berijazah’.

Label disabilitas itu ‘diciptakan’. Yang mulanya adalah sebuah mitos. sejarah mencatat, militer Yunani kuno dan Roma telah berupaya menyingkirkan ‘si cacat’ ini, jauh sebelum Hitler pada kurun 1940an melakukan pembantaian masal terhadap mereka, demi menjaga ‘kesucian’ ras Arya. Sebentuk modus ‘operasi’ atas nama moralisasi agama dan budaya yang memitoskan ‘si cacat’ lahir dari sebuah ‘kutukan’, akibat dosa yang harus ditanggung. Sejurus kemudian, disabilitas pun dilekati stereotipe negatif oleh medikalisasi para ahli medis, yang pada tahun 1977 sempat dihujat oleh Ivan illich, lantaran mengangap disabilitas ‘berpenyakitan’. Pendeknya, disabilitas ‘muncul’ sebagai defaluasi simbol melalui pengkategorian sebagai Yang-lain.

Yang pasti disabilitas itu ‘dekat’ dengan penindasan. Yang menurut Iris Marison Young, tak jauh pula dari eksploitasi, marginalisasi, pelemahan, imperalisme kultural, dan juga kekerasan. Kelas sosial lalu terbentuk, lahir penindas dan petindas. Dan lagi-lagi disabilitas harus menjadi si kecil pula. kelas menjadikan mereka ringkih, lemah dan kehilangan ruang gerak untuk hidup atau sekedar menunjukkan eksistensi. Arsitektural, mobilitas, pendidikan, pekerjaan, legal dan legitimasi akan menjadi balada baru bagi disabilitas. Atau setidaknya batu sandungan yang melelahkan. Yang acap kali memaksa mereka ‘berdiam diri’. Pada akhirnya; berteman dengan fatalisme sebagai ‘arus kecil’ adalah pilihan yang realistis. Pula, ‘menentramkan’.

Tragedi disabilitas adalah tragedi pluralisme. Tapi jauh sebelum wacana pluralisme mencuat pada era postmo, Hegel telah membuat catatan tentang ‘pluralitas’ melalui prinsip negativitas dan kontradiksi-nya. Bahwa, realitas itu penuh kontradiksi. Dalam universal selalu hadir partikular. Pula, ketika ada mayoritas maka terbentuk sekelompok kecil lain sebagai minoritas. Karenanya; segala sesuatu memperoleh identitas sebagai ‘yang normal’ atau ‘yang sempurna’ itu berangkat dari rangkaian relasi negatif tak terhingga dengan segala satuan lain. Yakni, dari ‘yang tidak normal’ atau ‘yang cacat’. Itulah pluralisme.

Namun masalah disabilitas tak sebatas pluralitas semata, atau penerimaan sebagai ‘bukan’ identitas Yang-lain saja. ia jauh meruntut, berbenturan dengan mitos-mitos agama, norma budaya dalam masyarakat kita, stigma serta stereotif negatif yang terlanjur diwacanakan oleh kaum medis, dan ‘cap buruk’ lainnya yang membetuk cercle vicieux bagi disabilitas. Pengalaman kita sebagai bangunan dari proses sosial, historik, kulturasi, ekonomis, dan politis, yang kemudian berafiasi sebagai pengetahuan telah membentuk kosep identitas negatif disabilitas dalam benak kita, entah itu sebagai si cacat, si buta atau lainnya.
Dekonstruksi budaya
Politik kesadaran menjadi semacam pintu pengharapan. Berbicara kesadaran berarti kita berbicara tentang cara pandang, cara hidup dan idealitas, serta pengakuan akan realitas. Artinya memahami disabilitas berarti kita harus berangkat dari sikap bahwa disabilitas adalah sebuah fakta sosial. Yang dalam konsepsi sosiolog Emile Durkheim fakta sosial bukanlah fenomena psikologi karena ia berada diluar kekuasaan sadar seorang individu. Masalah disabilitas bukan lagi masalah personal, akan tetapi telah menjadi masalah sosial, itu sama artinya kita harus memandang persoalan disabilitas secara utuh dan menyeluruh.

Dari situ; pendidikan pembebasan dan penyadaran menjadi modal awal. Dan Paulo Freire menjanjikan hal ini. Lewat pedagogik kritisnya, Freire menawarkan proses pembebasan yang memiliki dua fase; Kesadaran kritis dan praksis kritis. Kesadaran kritis membangun ‘kesungguhan’ kita -juga disabilitas sendiri- bahwa meraka memiliki identitas politik serta peran sosial. Kesadaran kritis adalah proses pembebasan itu sendiri. Tapi setelah itu bertaut pada fase kedua, yakni praktis. kesadaran kritis memerlukan praktis kritis melalui jalan dialektis,

Dan ketika kesadaran kritis telah terbentuk, akan merangsang sebuah ‘gerakan sosial’ terhadap disabilitas. Lalu muaranya adalah terwujudnya tatanan kehidupan masyarakat yang inklusif (inklusive society). Sebentuk tatanan masyarakat yang mengakui pluralisme (keberagaman) sebagai sebentuk ‘pengakuan’ akan perbedaan, memandang equity (kesetaraan) hak dan kewajiban bagi disabilitas, lalu menghargai dignity (martabat) para disabilitas bukan sebagai ‘yang-lain’, dan yang terakhir memberikan kesempatan active pertisipation (partisipasi aktif) yang sama bagi para disabilitas. Pada akhirnya, sebentuk kesadaran menjanjikan pengakuan; Bhineka tunggal ika tana hana dharma mangrwa.